Tuesday, 18 August 2009


Hasil Tes Empat Kompetensi

SURABAYA - Sahudi kecewa. Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya itu menemukan kenyataan bahwa kemampuan sebagian besar guru matematika dan ilmu pengetahuan alam (MIPA) di Surabaya tergolong kurang. Padahal, merekalah penentu keberhasilan siswa, salah satunya saat menghadapi ujian nasional (unas).

Kekecewaan Sahudi itu terungkap setelah menyimak hasil tes guru MIPA. Tes tersebut dilaksanakan pada 3-4 Juli lalu. "Memang kami akui, hasilnya tidak memuaskan. Masih di bawah target," ujar dia. Sahudi bahkan me­mastikan bahwa nilai tes guru yang jelek masih di atas 50 persen.




Waktu itu, peserta tes hasil kerja sama Dispendik dan Universi­tas Negeri Surabaya (Unesa) tersebut berjumlah 1.399 orang. Mereka terdiri atas 706 guru SMPN, 526 guru SMAN, dan 167 guru SMKN. Materi tes adalah kemampuan bidang studi, bahasa Inggris, teknologi informasi, dan pedagogik. Seorang guru setidaknya harus meraih nilai lebih dari 60.

Ternyata, lebih dari separo peserta tak mampu mencapai target tersebut. Artinya, 700 guru mendapatkan nilai di bawah standar.

"Karena itu, hasil jelek ini harus jadi bahan pertimbangan berbagai pihak," terangnya. Mulai kepala sekolah, seluruh jajaran sekolah, guru yang bersangkutan, hingga Dispendik sendiri. Sebab, guru-guru tersebut merupakan pendorong utama peningkatan kualitas pendidikan dan sangat berpengaruh pada kualitas siswa. Selain itu, MIPA adalah ujung tombak unas.

Sahudi berjanji untuk terus memperbaiki kualitas guru-guru tersebut. Salah satunya mengimbau agar sekolah-sekolah terus meningkatkan pengetahuan guru. Dispendik juga akan menggalakkan berbagai kegiatan peningkatan kualitas guru. Mulai continuing education program, crash program (program akselerasi untuk pendidikan guru), hingga memperbanyak workshop.

Mantan kepala SMKN 1 itu menjelaskan, dengan selesainya nilai tes guru-guru MIPA tersebut, Dispendik segera menganalisis. Salah satunya terkait dengan rencana rolling guru. Kalau nilainya bagus, seorang guru bakal menempati rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI). Namun, jika tidak memenuhi standar, sangat mungkin dimutasi ke sekolah yang tarafnya lebih rendah.

Artikel Yang Berhubungan



3 comments:

Riky Perdana said...

terus belajar dan upgrade diri ya bapak/ibu...

Blog Joker said...

trafik trafik

mudah2 n guru2 kita bisa lebih oke lagi,amin..

soza* said...

terus berjuang!